Kamis, 18 Maret 2021

Belajar Ikhlas

Halo, apa kabar semuanya?

I hope that you're in a good condition :')

Lama banget kayanya gue ga update kehidupan disini. sangat sangat sangat lama :')
Sebenernya lebih ke bingung sih mau cerita apa lagi.. cerita mah ada terus tiap hari, tapi bingung aja harus meng-up yang mana hihi. Ada satu yang sesungguhnya cukup mengganjal, mengganggu ketenangan kehidupan berbangsa dan bernegara wkwk lebay~

Bukan masalah berat, hanya masalah di masa lampau yang masih menggelitik. Entah karena masih tersimpan rasa marah, kesal, sedih, kecewa, dan lain-lain, padahal sudah berusaha melupakan. Disimpan sendiri saki, diupload mungkin bisa menimbulkan masalah, jadi bingung harus gimana. Setelah dipikir secara matang, baiknya gue ceritakan disini untuk mengurangi beban hati yang gue rasain..

Hmm..

Selama ini orang-orang melihat gue ceria tanpa beban. Ketawa sana sini, hangout sama temen disana disini. Kenyataannya engga seindah bayangan kalian :') Ketawa-ketiwi gue hanya gue jadikan tameng agar orang-orang ga mengasihani gue. Percayalah hidup dalam rasa kasihan orang lain itu engga enak sama sekali. Seolah-olah kita hidup sangat sulit, padahal hanya tinggal dijalani saja haha..

Aku ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk keluarga besar ibuku yang dahulu sungguh sangat licik dan menyakiti keluarga kecilku hingga pada hari ini aku menuliskan ini diblog aku masih tidak mengerti apa yang kalian inginkan dari keluarga kecilku yang 'tidak memiliki apa-apa'. Dari sakit yang kalian berikan, aku belajar hidup itu tidak selalu berisi tentang keindahan dan kebahagian. Terkadang malah penuh dengan cemooh dari lidah-lidah tak bertulang dan fitnah-fitnah yang cukup membuatku kaget.. Tenang aku dan keluarga sudah mengikhlaskan yang kalian ambil, tenang aku tidak akan mengungkitnya. Aku justru sangat berterima kasih, ketika kalian mengambilnya, aku jadi tahu kalau keluarga kecilku ini memiliki apa yang kalian tidak miliki. Miris rasanya, dulu kita sangat dekat, pergi bermain bersama, tertawa bersama, namun setelah ibu meninggal topeng kalian terbuka satu per satu. Dari yang dahulunya aku tidak tahu sampai sekarang aku sudah hafal gerak-gerik kalian.. Sampai detik ini aku pun berpikir, apa yang ada di benak saudara tertua ibuku ketika mengusir aku, adikku dan bapakku pada masa-masa kami masih belajar mengikhlaskan kepergian ibu kami? Aku yang masih muda ketika itu sungguh sangat marah, sangat kecewa, bahkan sampai melontarkan doa yang tidak baik kepadanya. Kami masih berduka, kami masih belum bisa menentukan kemana arah kami akan melangkah, kami masih mencerna kejadian itu, lalu kamu tega mengusir kami.. Ironis. Bahkan pada hari dimana ibu pergi, kamu sudah bersiap angkat senjata untuk berperang denganku saat itu. Hampir saja hak aku sebagai anak, kamu ambil. Iya, kamu hampir saja mengambil keputusan sepihak dimana ibuku akan dikebumikan. I said to all my family, this is our decision not yours. You are just her brother, you didn't have any responsibility to make decision. Kasar memang jika dilontarkan oleh anak perempuan berusia 19 tahun, kepada lelaki berusia 50 tahun-an. Tapi aku ingat apa yang diajarkan ibuku, jika hakmu ditindas, lawan jangan diam saja. Ya, aku lawan dia. Takut? Ya. Tetapi disitu aku mendapatkan dukungan dari banyak pihak, sahabatku, keluarga ayahku, beberapa kakak dari ibuku yang tidak 'berkubu' dengannya. Saat itu dia menurunkan senjatanya dan kalah.

Belum genap 1 tahun kepergian ibuku, dengan santainya dia mengangkat kembali senjatanya untuk berperang dengan keluargaku. Tebak apa yang kali ini dia lakukan?? Yap, dia memaki-maki aku saat bapak dan adikku tidak dirumah. Perkara sepele. Saat itu aku baru saja pulang dari field study, sampai di rumah badan sudah sangat lelah, sudah tidak banyak banyak tenaga tersisa, aku meletakkan barangku di atas sofa di ruang tamu dan bergegas ke kamar mandi untuk buang air. Di dalam kamar mandi, aku mendengar ada suara benda yang dibanting dengan keras. Aku tidak berpikir bahwa itu adalah barangku, kenyataan berbalik ketika aku keluar kamar mandi, upsss barangku berantakan terhampar menyasar ke meja komputerku.. Saat itu pula dia berteriak, bereskan barang-barangmu jangan diletakkan di sofaku, sontak aku kaget mendengarnya, aku yang baru saja pulang dan ke kamar mandi untuk urusan badanku tiba-tiba keluar lalu dihardik seperti itu. Refleks ku berujar, "bisa ga kalo engga dilempar? ini kan tidak mengganggu siapapun?" Dengan santainya dia berujar, "ini rumahku, mengikuti peraturanku." Kaget! Selama ini dia tidak pernah tinggal di rumah itu, tidak pernah mengurusi rumah itu, bahkan tidak mengeluarkan uang sepeserpun dari kantongnya untuk keperluan listrik, air, keamanan, sampah bulanan, bisa-bisanya dia mengakui itu rumahnya, yang aku tau itu rumah milik ibu bapaknya dengan atas nama adiknya, dan yang selama ini tinggal disitu adalah keluarga kecilku dan keluarga kakak keempat ibuku. Aku tidak bisa tinggal diam saat itu, kondisi fisik sudah sangat lelah, lapar, tiba-tiba dihardik seperti itu, aku berontak, aku marah, aku berteriak dan yang lebih membuat teriakan ku heboh adalah tetanggaku yang mengerubungi rumah bahkan pak RT saat itu sampai turun tangan karena orang yang bukan warganya berulah. Bahkan aku sampai menyebutkan, "anda bukan warga sini tetapi berperilaku tidak menyenangkan dan berbuat onar." Hahaha sungguh terlalu berani untuk aku yang berusia 19 tahun. Akhirnya masalah ini diselesaikan karena orangtuaku lebih cepat sampai di rumah diluar dugaanku dan pak RT yang sigap melerai perkelahian anak kecil dengan lelaki tua yang merasa berkuasa atas rumah tersebut.

Tak lama setelah itu, bapakku mendapatkan peringatan dari kakak tertua ibuku, bahwa kami harus angkat kaki meninggalkan rumah yang sudah kami tinggali sejak aku lahir. Rumah yang memiliki banyak kenangan selama 19 tahun. Sempat aku berpikir ini salahku, salahku karena terlalu emosi menghadapi orang seperti itu. Tetangga-tetanggaku menangis ketika kami bilang kami akan pindah hari itu. Mereka memeluk kami dengan erat, layaknya saudara kandung yang akan pergi merantau jauh sekali. Mereka menyemangati kami dengan kalimat-kalimat yang tulus, mendoakan kami agar kami terjauh dari orang-orang yang dzolim seperti kakak tertua ibuku. Doa-doa tulus dari mereka ini lah yang membuat kami tetap kuat hingga mampu tersenyum di depan mereka, bahkan kami bilang, tali silaturahmi kita tidak akan terputus walaupun kami pindah, dan itu terbukti hingga saat ini pada saat lebaran kami tetap mengunjungi rumah mereka untuk saling bersalaman menanyakan kabar. Miris sekali, melihat tetangga yang lebih menyayangi kami, ketimbang saudara kami sendiri. Inilah awalnya mengapa kami menjadi kaum nomaden hehe..

Setelah kami pindah, aku memberanikan diri untuk bertanya pada bapakku apa penyebab kami harus angkat kaki dari rumah itu. Beliau tidak menjawab dengan gamblang, hanya jawaban singkat yang cukup membuat aku bangkit dari kalimat-kalimat penyesalanku. Aku mencoba untuk mengambil apa hikmah dari kejadian ini. Kami bercerita sangat panjang hari itu. Bahkan hal-hal yang tidak aku ketahui jaman dahulu, kini akupun tahu. Mulai dari mengapa ia bisa sampai ke jakarta dan mengambil alih rumah tersebut, bagaimana dia memperlakukan bapakku, bagaimana dia memperlakukan ibuku, bagaimana dia memperlakukan adikku.. Aku tidak terlalu kaget, bagaimana jahatnya dia memperlakukan keluarga kecilku. Karena memang ku tidak terlalu suka dengan gayanya yang merasa paling hebat dan paling jagoan di keluarga besar, tetapi rasa ketidaksukaanku aku simpan rapat-rapat. Semasa ibu masih adapun dia berlagak seperti tuan besar di rumah itu. Mencuci baju sampai pakaian dalamnya dicucikan oleh ibuku, masak dari sarapan hingga bertemu makan malam menumpang di keluargaku, meminjam barang bapakku dia gunakan semena-mena hingga barang itu rusak, setiap jam 12 siang dia pulang ke rumah hanya untuk makan siang meminta lauk dari keluargaku, tidak ikut menyumbang bayar listrik di rumah padahal dia sering sekali menonton tv hingga dia ketiduran dan tv menyala hingga pagi, bahkan sampai dia sakit karena 'dikerjai' oleh temannya yang membiayai pengobatan adalah bapakku.

Semakin hari aku semakin banyak belajar, bahwa dengan adanya orang-orang ini aku bisa mengerti apa artinya saling menguatkan, saling mengasihi satu sama lainnya, tapi ini hanya berlaku untuk keluarga kecilku saja hahahahahaha. Ikhlas itu memang berat, tapi akan lebih berat kalo kita ga berusaha untuk mencoba. Terasa banget 1 minggu setelah pindah terasa ga ikhlas, setelah lama kelamaan mulai mencoba menerima segalanya, beban terasa lebih ringan, sakit mulai pudar, dunia seakan-akan berangsur membaik. Kata orang-orang coping-ku terhadap rasa sakit itu cukup baik, aku bisa bangkit dan ga berlarut-larut merutuki nasib. But, I'm still healing the wound. Rasa sakitnya masih ada, tapi aku sudah mengalahkan ego sendiri. 

 

 

 

 

 

 

Surat Untuk Pakde Hari Supriyatna

 

Halo, Pakde.

Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah SWT. 

Aku mau bilang sesuatu. Aku, Bapak dan Adik masih bahagia seperti sebelum kejadian pengusiran itu. Kita masih bisa tertawa, makan enak, jalan-jalan kemanapun yang aku dan keluargaku mau. Perlakuan yang Pakde lakukan, hanya kerikil kecil kok buat hidupku. Bapak masih bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan benar. Bapak juga mendidik kami dengan caranya, bukan cara yang Pakde mau. Kami bisa bergerak bebas tanpa ada kalimat yang menghardik kami. Aku dan adikku bertumbuh dan berkembang sesuai dengan passion dan hobby kita masing-masing dengan rasa senang dan tanpa rasa tertekan. Aku dan adikku merasa sangat bangga bisa mengalahkan ego kita untuk tidak membenci Pakde, walaupun luka yang kemarin Pakde kasih ke kita ga bisa sembuh dan membekas selamanya. Aku juga berterima kasih sekali karena Pakde sudah melontarkan kalimat fitnah untuk keluargaku, dari situ kami semua bisa mengetahui mana saudara yang dapat membedakan hoax dan fakta. Oiya aku sekalian mau mengklarifikasi kalau aku, Bapak, dan Adikku tidak pernah sama sekali menelfon Eyang Tati dengan memaki-maki dan membanting telfon, karena semenjak keluargaku dikucilkan di keluarga besar, kami menarik diri agar kami tidak semakin sakit hati mendengarkan fitnah keji yang beredar disana. Perlu diketahui oleh Pakde, selama aku hidup di dunia aku selalu diajarkan sopan dan santun serta bertutur kata yang halus jika menelfon seseorang yang lebih tua dariku. Aku aja ga pernah menutup telfon duluan kalau Bapakku nelfon aku, gimana kalo aku telfonan dengan Eyang Tati, ga mungkin aku akan menutup duluan telfon dari beliau. Hehehehehe.

Oiya, aku mau tanya selama kita sudah tidak tinggal di rumah itu, siapa yang bayar listrik rumah? Siapa yang menyogok got kalau airnya mampet? Aku harap disana ada orang yang bisa disuruh ya buat mengerjakan itu semua. Tenang Pakde, aku dan keluargaku sudah tidak akan mengingat jika ibuku memiliki hak di rumah itu juga. Kita sudah punya sendiri kok sekarang, jadi silahkan dipakai ya rumahnya, dijaga dan dirawat yaa. Hehehehehe.

Oh ada yang ketinggalan!

Aku mau meminta maaf kalau aku, Bapakku dan Adikku masih belum bisa memaafkan semua yang Pakde pernah perbuat untuk kami. Kami sengaja menyimpannya sedikit sebagai pengingat bahwa kami pernah menjadi orang yang Pakde cari ketika Pakde mengalami kesusahan, mengurusi Pakde, padahal saat itu kondisi kami ekonominya sedang tidak stabil. Tidak apa-apa, tidak usah takut, kami tidak akan membalasnya. Kami tahu ada yang maha mengetahui segalanya. Kami menyerahkan agar yang maha mengetahui mencatat dan mengembalikan apa yang telah Pakde berikan kepada kami. Satu hal yang perlu Pakde ingat, aku tidak akan pernah lupa bagaimana Pakde menyakiti Bapak dan Adikku, bagaimana Pakde membuat orang-orang yang sangat aku cintai menangis karena perlakuan Pakde. Semua hal itu aku simpan dengan baik di hati dan otakku. 

Aku berharap Pakde akan sehat selalu, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Tidak mengalami kekurangan sedikit pun. Selalu menjadi panutan untuk adik-adik Pakde yang lain. Aamiin Yaa Rabb.


Salam Hangat,

Ria.

Share:

Senin, 16 Desember 2019

INHALE EXHALE

Ahooyyy pemirsa dimana pun kalian berada~

Setelah cuti bertahun-tahun lamanya akhirnya kembali lagi ke blog. Memang sesusah itu mengumpulkan mood buat mengetik semua yang ada di pikiran ini. Bahkan ini blog sampai usang hahaha. Maafkan aku ya, i didn't mean it :)))

Bahas dari mana ya enaknya. Bingung~

Well...

Dari sini aja deh.

Dimulai dari banyak yang bertanya, "kenapa sih okta pergi sama adiknya terus?", "kok sama adiknya terus sih ta?", "kok adiknya diajak terus sih ta?". Berbagai macam pertanyaan seperti itu selalu terlontar dari teman-teman yang melihat gue kemana-mana sama adik gue. Sebagian orang pasti penasaran, sebagian orang sudah tau jawabannya, bahkan sebagian orang tidak peduli hahaha. Baiknya sih ga peduli aja, toh aku pergi sama adik gue atau bukan, kalian tidak memberikan ongkos jalan hahahaha~ SARKAS~

Kenapa sih ta kok selalu sama tyas?
Kenapa? Ya karena aku merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan dia. Kenapa aku harus bertanggung jawab? Karena dia sudah banyak berkorban untuk kehidupan gue.

YEAH, THAT'S THE REASON.

Berkorbannya dalam banyak hal. udah gabisa disebutin lagi satu per satu. Terlalu banyak dia berkorban buat gue. Ditambah lagi, gue lebih lama merasakan kasih sayang dari ibu hampir 20 tahun, sedangkan tyas hanya merasakan sampai kelas 6 SD, at least hanya sampai umur  13 tahun. Dia ga banyak merasakan kasih sayang sebanyak gue. Itulah kenapa gue mau banyak berkorban apapun demi dia. Ah mewek deh :'''')
Dulu dia sering gue jahilin sampe nangis, berantem, pukul-pukulan. Gue selalu merasa bersalah kalo inget kejadian-kejadian yang bikin dia nangis. Gue mau menebus semua kesalahan-kesalahan di masa lalu untuk membahagiakan dia di masa ini dan masa yang akan datang. Berhubung gue juga sudah punya penghasilan sendiri, ketika dia minta sesuatu hal dan gue bisa memenuhinya, gue akan memenuhinya sebisa mungkin dan sesegera mungkin.

Gue sedih ketika orang bilang, "emang adeknya ga bisa pergi sendiri?", "emang adeknya harus ikut terus?", "kapan pergi jalan sama pacar?". Guys, percayalah yang kalian katakan ke gue itu sungguh bikin hati gue sakit. Bener-bener sesedih itu. Kalian tidak pernah ada di posisi gue, jadi kalian mungkin tidak tahu rasanya gue berusaha untuk mencurahkan apa yang gue punya untuk adik semata wayangnya yang masih kecil dan ditinggal sama ibu. Ya gitulah.

Bahkan di PRIORITY LIST milik gue nomor pertama "Membahagiakan Adik dan Bapak".

Jadi, cukuplah bertanya dan menanyakan hal-hal begitu.

Kalau memang kalian gabisa menerima kehadiran adik gue saat berkumpul, bilang aja gapapa kok. Karena gue yang akan mengakomodir segala kebutuhannya saat gue mengajak dia pergi kemana pun gue pergi. I'm cool with that, seriously!

Semoga jangan ada lagi ya guys.

I've been struggling for 8 years to answer those ridiculous questions. If you keep asking me that question, don't be mad at me if I blocked you for the rest of my life :)

SEE YA GUYS!
Share:

Minggu, 23 Juni 2019

Short Getaway - Part 1

Annyeong yeorobun!!!

Fyuhh balik lagi setelah jutaan tahun tidak menyentuh blogQu yang sudah usang ini wuahahaha..

Baiklah hari ini mau barbagi pada kalian semua wahay umatku yang budiman. Berbagi cerita tentang short getaway gue di hari minggu yang singkat ini di daerah Jakarta kota tercintaQu..

Dimulai darimana nih enaknya? Dari bangun tidur kali ya..

Pagi ini sebenernya niat bangun jam 6 pagi terus siapin bekal buat pergi hari ini. Tapi semua batal karena gue kesiangan sampe jam 09.30 gaes! Gokil kan kesiangannya. Yha maklum, semalem abis nonton drama sampe jam 03.00 hahahahahahahaha :)))

Setelah siapin semua peralatan untuk hari ini, langsung menuju Stasiun Universitas Pancasila dengan menggunakan jasa ojek online sekitar jam 10.30, sorry gaes emang selama itu kok gue kalo lagi siapin barang hahahaha. Kenapa gue lebih memilih Stasiun Universitas Pancasila dibandingkan Stasiun Lenteng Agung. Karenaaaaa, Stasiun Universitas Pancasila engga ada jembatannya hahahha dasar aku lemah. Selain itu, bisa dapet gerbong paling depan a.k.a gerbong wanita. Yha walaupun gerbong khusus wanita dihari kerja itu kek neraka, tapi pas hari libur yha lumayan deh bisa napas. Oke oke oke lanjut ke ceritanya.. Berangkat jam 11.04 dari Stasiun Universitas Pancasila dan memutuskan untuk turun di Stasiun Gondangdia, karena jaraknya cukup dekat ke tempat tujuan gue ini. Gue sampe di Stasiun Gondangdia sekitar jam 11.55. Pffft, lama kan lama, lama buaangeett! Yha kalo jajaran anak kereta taulah masalah kereta ketahan buat masuk ke Stasiun Manggarai hahaha, pengen misuh-misuh bawaannya yaaa.

LANJOOOOT

Sampe di Gondangdia gue langsung pesen ojek online buat ke Perpustakan Nasional RI. Yuuupp!! Hari ini jalan-jalan ke Perpustakaan Nasional RI. Entah ada angin apa gue memutuskan untuk kesini. Niat awalnya di Perpusnas mau diskusi sama temen-temen karena mau ngadain event tahun ini, tapi mendadak engga ada yang bisa dateng. Jadilah gue bermain sendirian di Perpusnas.

Happy engga ta?

SUMPAH DEMI APAPUN, GUE BENERAN HAPPY KE PERPUSTAKAAN INI. SUMPAH SUMPAH SUMPAH SE-EXCITED ITU GUE KESINI!!!

Kok bisa ta?

Yaaa bisa dong gaes! Coba kalian bayangkan, perpustakaan dengan 24 lantai yang bisa kalian explore sepuasnya?! Yaa walaupun ga semua lantai gue singgahi tapi GILA!! HAPPY!!! Berhubung gue jalan-jalan sendirian, jadi gue bebas mengeksplor tempat ini tanpa harus denger partner yang ngeluh capek hahaha.

So, let's begin...

Diawali dengan di lantai 1, kita diharuskan untuk menitipkan barang bawaan di loker yang udah disediakan sama pihak perpusnasnya. Tapi jangan khawatir, disana kita dikasih tas mirip shopping bag gitu untuk membawa keperluan kita selama menjelajah Perpusnas. Sebaiknya memang gausah bawa makanan dan minuman ke areanya, karena di lantai 4 kita bisa menemukan kantin koook. Well, gue memutuskan untuk membawa seperangkat laptop, charger hp, powerbank, hp gue sendiri, dompet, lip tint. YHAHAHAHAHA lip tint gaboleh ketinggalan guys, the core of my life HAHAHA..

Setelah gue simpen barang-barang di locker, gue menuju ke lantai 2 untuk membuat kartu anggota. Eh tapi pas sampe di lantai 2, malah gabisa cetak karena kartunya habis. Duh Gusti Nu Agung, iso abis ki piye to mas -_- yaudahlah karena disana gue mau happy-happy jadi ga bete banget sih haha, nanti kesini lagi yaa buat bikin kartu anggotanya taa jangan sediiiiih. Karena gue gabsisa dapet kartu keanggotaan, sebagai gantinya gue dikasih secarik kertas yang ada barcode dan nomor anggotanya untuk keperluan di dalam Perpusnas nanti..

Cukup bingung sih menentukan lantai mana yang mau gue kunjungi selanjutnya. Akhirnya gue naik lift dan randomly turun di lantai berapapun hahahahahah, dasar aku. Turunlah gue di lantai 12A, gue mencoba ruang baca dengan kapasitas 1 orang. OHO! bener kok kapasitasnya 1 orang, tapi ada banyaaaaak banget ruangannya disini, baik ruang tertutup maupun yang terbuka. Tertutup? Gimana sih maksudnya? Iyaa gaes tertutup itu karena bener-bener disekat pakai sekat kaca tinggi gitu, jadi lebih personal dan sepi banget. Nah, ada juga ruang terbuka yang bener-bener pas masuk lantai tersebut ada banyak meja dan kursi yang bisa dipakai untuk duduk-duduk sambil browsing atau ngerjain tugas gituuuu deh. Ah sampe lupaaaa, di tiap lantai Perpusnas juga tersedia untuk ruang diskusi kalo ada yang mau ngerjain something bareng temen-temen. Tapi syaratnya harus punya nomor anggota yaa masing-masing temannya dan minimal 3 orang. Oiya, mau ngasih tau aja nih, untuk ruang baca personal yang tertutup itu, suhu ruangannya cukup panas ya, mungkin karena disekat full dan pendingin ruangannya central jadi hawa dingin kurang terasa disini..

KEEYYY LANJOOOT LAGEEEEE

Udah bosen banget di lantai 12A gue turun ke lantai 4 untuk cari makan. YAAA LAPERRR GAESS. Ini perut dari pagi belum makan apa-apa. Niatnya mau makan di kantinnya, tapi pas sampe di kantin malah penuh banget. Astagfirullah, lautan manusia hahaha. Oiya, FYI gaes, di kantin harus pake uang cash yaa. Harganya sekitar 25 ribu sampai 30 ribuan untuk makan di sini. Bingung dong mau makan kemana karena penuh, pas diinget-inget ada kafe di lantai 1. Yaudahlah yaaa gue kesana untuk pesen Iced Americano karena mata mulai ngantuk tak tertahankan haha. Lumayan lama sih nunggunya untuk 1 cup iced americano disini, gue nunggu sekitar 30 menit gaes, dan pas dirasain kopinya ga fresh :( So sad gaes, gue saranin gausah kesini kalo engga kepepet banget, better beli kopi di indomaret point deh :''''(((( Selama nunggu gue memperhatikan mba dan mas waiternya, hmm gimana ya..... Sependengaran gue, mereka cukup sering mengumpat, entah pas lagi bawa makanan atau sedang buat makanannya. Huh.. sabar mas dan mba, namanya juga bekerja.. Tadinya mau ngabisin iced americanonya di tempat, tapi karena risih mendengar umpatannya cabsss ajalah yaa.

SKIP SKIP SKIP SKIP

Setelah ngabisin 1 cup americanonya, gue memutuskan untuk bersemedi di lantai 8 alias RUANG BACA AUDIOVISUAL. Huaahahahahahah kok happy banget ta? YAIYALAAAH!!! YA GILA KALI, ADA BANYAK PILIHAN FILM DI LANTAI INI. Filmnya macem-macem kok. Ada film luar negeri, dalam negeri, sampai film anak-anak pun ada, eh film dokumenter so pasti ada juga dongss. Bingung mau ngeplay videonya dimana? TENANG! Di lantai 8 disediakan kurang lebih 20 komputer untuk bisa digunakan sama pengunjungnya. Tapi filmnya hanya bisa dipinjam di lantai 8 aja ya gaes, gabisa dibawa keluar. Karena udah gatau mau ngapain, gue pinjem film Inception aja, padahal sesungguhnya gue udah nonton film ini berulang kali dan tetep seneng sama jalan ceritanya. Gue nonton cuman setengah cerita aja gaes :( Soalnya gue udah laper banget sampe gatahan gitu masa :( Sedih kaaan.......

Sekitar jam 15.30 gue cabut dari Perpusnas..

Tadinya mau cari warteg sekitar Perpusnas, pas inget oiyaaa warteg kan kan kan ga ada :'( Gue coba searching di zomato, adakah tempat makan yang cukup enak buat mgetik banyak hal dan tempatnya asik.. TADAAAA!!! Gue menemukan satu tempat namanya 21 FACTORY. Tenang, ditempuh pake ojek online sampe kok gaes, udah ada di maps. Tempatnya sejajaran sama es krim ragusa kalo ga salah. Eksteriornya cantik banget, cukup eye catching, cantik deh pemilihan warnanya. Pas masuk, disambut baik sama mas dan mba waiternya. Hmm, kalo ditanya harga yaa relatif menengah yaa, sekitar 15 ribu sampai 90 ribuan, kalo mau lengkapnya ada di zomato yaa gaes. Disini mereka sebenernya jual gelato, tapi ada makanan beratnya juga. Gue pesen Nasi Ayam Lemon dan Iced Tea. Hahaha laper laper laper, di kepala isinya nasi nasi nasi nasi nasi nasi nasi nasi. Nunggunya ga begitu lama, baru duduk terus ngeluarin laptop, iced tea langsung datang menghampiriku yang kelaparan dan kehausan ini.. Sambil update blog ini, ga terasa makanannya dateng. Pas makanannya dicobain....... NIQMADH GAES.... ENAAAA MASYA ALLAH..... Laparku hilangggss. Indah banget rasanya. Alhamdulillah.. Oiya pas pulang gue lupa beli gelato karena udah maghrib juga gaes. Solanya target balik ke rumah itu maghrib, biar besok pas kerja engga terlalu capek..

Pas pulang gue memutuskan untuk pulang naik kereta lagi dari Stasiun Juanda, karena lebih deket dari 21 FACTORY..

Oh iya.. Kalo mau jalan keliling jakarta, jangan lupa pake sunblock ya gaes, sinar matahari jahat jangan sampai bikin kulit kamu rusak padahal pengen jalan-jalan happy-happy hahahahahaha.Satu lagi, jangan lupa bawa payung dan sendal jepit yaa, karena kita gabisa memprediksi cuaca di Jakarta huhuuhu. Hari ini bener-bener kaya ngerasa self healing banget, setelah seminggu bekerja full day dan lembur hahaha. Bener-bener bersyukur bisa ngerasain jalan ke tempat baru dan SENDIRIAN!!! HAPPY!! Hmm sorry ya gaes, gue ga ada foto hari ini karena emang bener-bener nikmatin perjalanan ini hehehe...

Sooo, sekian update hari ini yaa.. Semoga makin rajin updatenya dan bisa nulis Short Getaway part part selanjutnyaa.

See yaa!! ♥
Share:

Sabtu, 11 November 2017

People Jaman Now

Hello, fellas!

Ah akhirnya update juga setelah berbulan-bulan ngumpulin waktu buat ngisi blog. Sesungguhnya pengen banget sih yaa ngisi blog lagi dari kemarin-kemarin tapi ada aja yang namanya hambatan, terutama si males haha.

Postingan kali ini mau mencurah kan isi hati a.k.a curhat. Emm, ga isi hati juga sih tapi lebih ke isi kepala~ hah-_- Mau sharing aja gitu tentang apa yang lumayan mengganggu buat gue. This one so irritating for me~

Mau tau apa yang bikin gue 'very irritating'? Nih baca~

Hal yang membuat gue super eneg adalah temen kantor yang baru menikah dan menyuruh-nyuruh gue buat buruan nikah-.- Yaa emang sih udah memasuki usia kepala dua yang menjelang seperempat abad, TAPI GA GITU JUGA KALI WOY!

Maybe, buat doi menikah adalah sebuah achievement yang luar biasa dan dicap sebagai orang yang sudah 'laku'. Ada benernya juga sih bahwa doi sudah 'laku' alias sold out alias ganda campuran or whatever you should name it. But let me explain............

Doi nih yang bising banget nanyain kapan gue bakalan nyusul buat nikah. Kalo cuman sebatas pas lagi acara doi nikahan sih gapapa, tapi kalo tiap gue chat / message, selalu nanya kapan nikah, bosen ga sih? Apa sih nih orang, esensinya apa-.- FAEDAHNYA APA WOY! Mungkin buat doi, menikah adalah hal yang sangat hebat dan luar biasa, and she feels like she gets a big medal for lyfeeee. Terkesan kaya dia sudah lebih hebat dari teman-temannya yang belum menikah. Tapi, ada beberapa hal yang harus digarisbawahi disini....

Satu, mungkin dia lupa daratan. Wahahaha, lupa daratan? Iyalah~ secara doi lagi happy-happy-nya punya status baru yaitu 'newly wed'. Baru nikah. Laku. Status di KTP ganti. Tidur ada yang nemenin. Whatever~ Saking bangganya, doi nyuruh gue buat cepetan nikah, padahal dia sendiri baru 1 jam yang lalu sah-nya. Hah, people jaman now-_-

Dua, usia doi lebih tua dibanding gue. Perlu gue jelasin ga nih? Ga perlu deh ya kayanya kalo ini, bisa paham lah gimana hahaha. LALALALAAAAA~

Tiga, doi lupa kalo masing-masing orang di dunia ini punya 'timeline'-nya sendiri. Ada orang yang menikah terlebih dahulu baru sukses, ada orang yang sukses dulu baru menikah. Semua ini udah diatur sama Yang Maha Kuasa. Kalo doi nyuruh-nyuruh gue buat nikah cepet, terus gue langsung bakalan nikah gitu 1 jam kedepan. HA! Jodoh, maut, rezeki, Tuhan yang ngatur, manusia cuman bisa berusaha dan berdoa. Mungkin doi lupa akan hal itu....

Empat, a life journey after married. Gue pikir banyak hal yang bener-bener harus dipersiapkan secara matang buat bekal setelah ijab qabul. Yhaa you know lah yaa. Hidup itu ke depan bukan ke belakang. Ini persepsi gue aja sih. Beda orang beda persepsi kalo hal yang ini.

Hmm, gue tau ga semua orang begini kok. Mungkin ada yang sekedar bertanya aja sambil mendoakan atau memang basa-basi belaka. Tapi kalo basa-basinya pertanyaannya ini terus pengen gue lempar batu rasanya. Gue ga merasa sakit hati kok denger pertanyaannya, tapi bising aja di telinga kalo pertanyaannya itu terus. Makanya gue selalu jawab, 'doain aja ya'. Biar case closed~

Siapa sih yang gamau nikah wkwk. Yaa kaya yang tadi udah gue bilang semua itu ada waktunya. Buat yang belum ketemu jodohnya, mungkin sekarang waktunya menyiapkan diri menjadi yang lebih baik. So, buat yang udah ketemu, buat bahan bercanda gapapa kok sah sah aja tapi inget batasnya.

Gitu aja sih sebenernya yang pengen gue share.

Disini gue ga nyinyir atau ngomongin orang, gue mengungkapkan pendapat gue dan beberapa orang diluar sana yang punya pembahasan sama terkait pertanyaan 'kapan nikah'. Buat yang merasa tersinggung, gue mohon maaf sebesar-besarnya, kalo mau bahas ini person to person bisa langsung kontak ke gue biar kita clear-in masalahnya. Untuk yang bilang gue baper sama hal sepele, coba deh kalian bayangin berada di posisi kaya gini sebelum men-judge seperti itu.

See you on, next post!
Share:

Selasa, 04 April 2017

Perawatan Wajah - Part 1

Judulnya?
Ga salah?
Beneran?

Hahaha, yaiyalah beneran masa bohongan-_-"
Ya, perawatan wajah. Mau berbagi cerita aja sih seputaran masalah wajah yang pernah dialami eh sampai sekarang deng haha. Mulai dari bersih, breakout, bersih lagi, breakout lagi, pokoknya gitu-gitu aja terus sampai lebaran kuda.

Pertama kali ngerasain facial itu pas kuliah semester 4, kurang lebih pas umur 20 tahun. Itu kalo ga salah sih ya hahaha. Maklum memory terbatas. Komentar yang pertama kali terlontar adalah "hmm, gini ya facial?" abis itu....... " WADAAAAW SAKITTTTT" itu pas ekstraksi komedo. Itu beneran sakit, lebih sakit dari rasanya di php dosbing haha. Waktu itu gue sok sok tegar menahan pedihnya muka diunyel-unyel pake ekstraktor komedo, akhirnya gue nangis juga. Abis itu ketauan mbak-mbaknya hahaha malu :'')
After that, yaa kurang lebih 2 minggu setelah gue facial di tempat itu muka gue mulai gatal-gatal dan merah. Gue kira awalnya alergi sama makanan. Pertolongan pertama yang gue lakukan adalah pake lotion caladine wkwkw, kenapa? karena gue berpikir itu adalah alergi jadi gue olesin tuh lotionnya. Untuk 15-3 menit pertama adem tuh ga terlalu gatal. Menit menit selanjutnya gatal lagi. Kyaaaaa! My face! Masuklah minggu berikutnya muka gue semakin BREAKOUT :( Jerawat-jerawat pun langsung keroyokan munculnya. Awalnya 1-2 jerawat lama kelamaan banyak banget dan perih. Gue udah hopeless dan sedih banget banget banget. Pertolongan selanjutnya adalah dengan mengolesi jerawat dengan pasta gigi. Hahaha lumayan lah ya perih perih adem gitu. Kering sih jerawatnya tapi entah kenapa makin perih banget, tapi breakoutnya ga berkurang sama sekali. Poor me! Saking hopelessnya gue pasrahin tuh muka maunya jadi apa.
Gue membiarkan ke-breakout-an muka gue berbulan-bulan ekekekeke. Day by day, month by month just passed. One day gue ketemu sama kakak sepupu gue yang profesinya dokter. Dia menyarankan buat gue dateng ke kliniknya pas tau muka gue jadi begini. Dia yang tau gue dari kecil kaya apa, pas ketemu muka gue jadi jerawatan gitu kaget, she just said "sabtu dateng aja ya dek ke klinik aku". Lalala ~ seperti mendapatkan angin segar pas dikasih kabar begitu hahaha. Gue sama si gemblong tyas meluncur ke sana.

Secara otomatis ini menjadi kali kedua gue facial. Facial kedua gue menjadi perawatan jerawat gue. Kakak gue bilang segala macam perawatan ditanggung sama dia. Oh my God! Gratis. Alhamdulillah. Dia bilang perawatan yang bakalan dijalanin adalah chemical peeling. Tik tok tik tok. Chemical peeling? Apaan tuh? Tik tok tik tok. Sebelum gue dapet perawatannya gue sempetin aja buat googling ahaha, kebetulan disana waktu itu lagi rame banget. Yang jadi fokus saat googling adalah akan ada pengolesan cairan peelingnya. Ah paling gremet-gremet aja rasanya. Well, gue lupa kasih tau kliniknya, namanya adalah Hayfa Beauty Skin Care ada di daerah Tebet ga jauh dari comic cafe.
Dimulai lah treatment-nya. Pas muka dibersihin tuh adem indah bahagia gitu, bawaannya langsung ngantuk wkwk. Emang dasarnya aja gue pelor (re : nempel - molor). Pas ektraksi komedo tuh enak banget yaa walaupun sakit, tapi ini lebih lembut dan bukan pake ekstraktor yang kaya biasanya. Alatnya berupa lempengan dan bergetar-getar lucu gitu wkwk, enak deh pokoknya. Tapi paling sakit adalah ketika ada white komedo, nauzubillah sakit banget! Treatment selanjutnya adalah infrared, entah alatnya kaya gimana, gue ga berani liat wkwk, rasanya kaya gremet-gremet cekit-cekit, baunya kaya rambut gosong gitu deh. Then, ini adalah proses menyakitkannya. DIOLESI CAIRAN PEELING. Kakak gue cuman bilang, dek ini rasanya agak cekit-cekit gatal tahan ya dek. Gue cuman manggut-manggut aja tuh dibilangin gitu. Pas dioles ah adem enak kok, lama kelamaan kok gatel yah. AAAAAA INI BUKAN CEKIT-CEKIT LAGI GILAAAAA PEDESSSS. Pas 10 menit udah diolesin, kakak gue bisikin dek yang gatal bagian mana biar ditempel sama yang adem-adem. Gue bilang aja semuanya gataaaaaal wkwkw. Ditempelin deh tuh alatnya, kan tadi dibilangnya adem ya hahaha bukan adem tapi DINGIN BANGET :'' ketipu deh. Ini ada part terbhaek lah dalam perawatan ini. Well, abis itu muka gue di sinar pake sinar-sinar biru gitu, entah itu sinar apa. Prosesnya kurang lebih 20 menitan. Ini part terindah di treatment ini, saatnya curi-curi waktu buat bobok hahahaha. Enak, da best lah pokoknya. Saking nyenyaknya tidur, gue sampe ga sadar kalo si sinarnya itu udah digeser ketempat lain. Tiba-tiba ada tangan nyentuh muka gue dan gue kaget ahahaha-_- ternyata itu tangan mbak-mbak therapistnya. Muka gue dioles pake cream anti iritasi gitu. Selesai deh perawatan. Biasalah, abis itu gue, tyas dan kakak gue chit-chat dari A to Z.
After that, gue dikasih 4 macam "after-treatment-things", yaitu Facial Soap, Acne Foundation, Acne Night Cream, dan Toner. Nah ini nih yang bikin gue agak males, karena gue anaknya tidak suka dengan kerutinitasan wkwkw. Mulai dari situ, gue belajar untuk tekun dan rajin untuk merawat wajah. Dari penggunaan toner, cuci muka, toner pakai cream malam. Abis itu paginya toner, cuci muka, toner, cream pagi dan bedak. Gue berubah menjadi teratur.

Perawatan sama kakak gue terus berlangsung sampai gue bertugas di Cikini. TApi semenjak pindah ke Cimacan udah engga, karena jaraknya terlalu jauh wkwkw. Apalagi sekarang lagi tugas di Samarinda. Makin jauh :(

Sebenernya belum selesai sih cerita perawatan muka gue ini. Tapi bakalan disambung di part berikutnya karena gue sempet pindah beberapa tempat untuk perawatan...

See you on next posts ;)

XOXO,

Oks
Share:

Sabtu, 18 Februari 2017

Aku, Kamu, dan Nasi Uduk di Buperta, 2013 - Part 1

Malam mengajakku untuk memikirkan hal-hal yang sudah berlalu dengan indah.
Berputar tanpa ada habisnya.
Singgah sekejap, lalu menghilang tak berjejak.
Ada rinduku hinggap dalam gelap.
Namamu selalu terselip di dalam sujudku.
Semoga putaran waktu kita dapat beriringan menuju senja untuk kita nikmati bersama.

Untukmu, yang ku tunggu dari hari itu♥
Share:

Jumat, 16 Desember 2016

!@#$%^&

Yo yo yo gaes welcome back to the very unspecial blog from unpredictable city~ *hiyak muntah paku*

Ta, lau ngomong apa sih~~ hahaha duh maafin gaes biasalah emang suka gajelas akhir-akhir ini. Bersyukur banget nih bulan ini bisa menghidupi blog dengan 2x update wuakakakakak~ and the reason is gue emang kangen sama dunia blog gue yang super alay bin amit-amit. Kangen dengan seluruh kealayan yang gue buat sampe orang enek baca blog ini. Close aja deh close hahaha *plis banget okta baper* Udahan ah kangen-kangenannya. Ga kuat ngeliat tulisan gue yang semakin alay. Fix ta emang lu alay binti amit-amit ✌

Postingan kali ini akan berhubungan dengan ke-terlalu-realistis-an gue setelah lulus dari kuliah. Plis banget bahasan kali ini akan berat kaya badan gue *bhay!*

Keterlalurealistisan kok jadi aneh ya?-_- Iya iya iya, gue pisah hahaha........

Ke-terlalu-realistis-an gue ini bermula ketika gue selesai menempuh perjalanan berliku menanjak menurun banyak polisi tidur ada tambalan jalan yang engga rata ditambah jalanan berlubang~ as known as K-U-L-I-A-H. Jujur setelah gue lulus dan mendapat gelar itu rasanya seneng, bangga, tapi ada beban terselip di dalamnya. Seneng dan bangga, karena gue berhasil melepas status mahasiswa gue menjadi alumni wuakakakk! Tapi bebannya adalah gelar gue bisa menjadi manfaat bagi orang lain. Seharusnya memang seperti itu. Namun, apa yang gue cita-citakan itu masih belum bisa terealisasikan karena gue yang terlalu realistis sama kehidupan gue sendiri.

Why?

Sadar atau engga selama 4 tahun ini gue bertarung dengan mata kuliah yang engga sedikit, mati-matian mempertahankan IPK sampe nyaris gila, gontok-gontokan sama dosen, perang dingin sama skripsi, cuman demi selembar kertas yang bertuliskan IJAZAH. Tapi setelah perjuangan yang engga bisa diungkapkan dengan kata-kata malah dengan mudahnya gue tinggalkan semua itu. Well, tolong garis bawahi dan catat. Gue 'melepaskan' gelar gue dibelakang nama gue bukan semata-mata karena gue kepeleset sama jurusan ini, tapi lebih sebagai cermin seberapa pantas sih gue bertarung sama S.Gz-S.Gz lain di luar sana yang lebih hebat dibandingkan gue yang apalah apalah-,-

Minder? No way! Gue engga minder. Tapi gue ngaca bahwa gue belum ada apa-apanya dibandingkan dengan S.Gz lainnya di luar sana yang lebih mumpuni dibanding gue. Itulah hal yang menjadi sumber ke-terlalu-realistis-an gue saat ini dan membuat gue terjun bebas ke dunia kerja. As you know, gue kerja sama sekali engga ada sangkut-pautnya sama background pendidikan gue sendiri.

Di luar sana masih banyak orang yang berpikiran jauuuuuh berbeda dari gue. Masih banyak rekan-rekan seperjuangan yang idealis, yang mengharapkan bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan background pendidikannya. Engga kok, gue engga meremehkan sama sekali. Postingan ini sama sekali engga ada unsur peng-underestimate-an buat rekan-rekan di luar sana. Hanya lebih ingin mencurahkan apa yang selama ini menjadi pikiran gue aja kok. Jujur, gue pun masih punya sisi idealisme terhadap pekerjaan dengan background pendidikan yang sama. Tapi entah kenapa pemikiran realistis gue terlalu mendominasi, sehingga gue merealisasikan pemikiran gue ini.
Share: