Jumat, 16 Desember 2016

!@#$%^&

Yo yo yo gaes welcome back to the very unspecial blog from unpredictable city~ *hiyak muntah paku*

Ta, lau ngomong apa sih~~ hahaha duh maafin gaes biasalah emang suka gajelas akhir-akhir ini. Bersyukur banget nih bulan ini bisa menghidupi blog dengan 2x update wuakakakakak~ and the reason is gue emang kangen sama dunia blog gue yang super alay bin amit-amit. Kangen dengan seluruh kealayan yang gue buat sampe orang enek baca blog ini. Close aja deh close hahaha *plis banget okta baper* Udahan ah kangen-kangenannya. Ga kuat ngeliat tulisan gue yang semakin alay. Fix ta emang lu alay binti amit-amit ✌

Postingan kali ini akan berhubungan dengan ke-terlalu-realistis-an gue setelah lulus dari kuliah. Plis banget bahasan kali ini akan berat kaya badan gue *bhay!*

Keterlalurealistisan kok jadi aneh ya?-_- Iya iya iya, gue pisah hahaha........

Ke-terlalu-realistis-an gue ini bermula ketika gue selesai menempuh perjalanan berliku menanjak menurun banyak polisi tidur ada tambalan jalan yang engga rata ditambah jalanan berlubang~ as known as K-U-L-I-A-H. Jujur setelah gue lulus dan mendapat gelar itu rasanya seneng, bangga, tapi ada beban terselip di dalamnya. Seneng dan bangga, karena gue berhasil melepas status mahasiswa gue menjadi alumni wuakakakk! Tapi bebannya adalah gelar gue bisa menjadi manfaat bagi orang lain. Seharusnya memang seperti itu. Namun, apa yang gue cita-citakan itu masih belum bisa terealisasikan karena gue yang terlalu realistis sama kehidupan gue sendiri.

Why?

Sadar atau engga selama 4 tahun ini gue bertarung dengan mata kuliah yang engga sedikit, mati-matian mempertahankan IPK sampe nyaris gila, gontok-gontokan sama dosen, perang dingin sama skripsi, cuman demi selembar kertas yang bertuliskan IJAZAH. Tapi setelah perjuangan yang engga bisa diungkapkan dengan kata-kata malah dengan mudahnya gue tinggalkan semua itu. Well, tolong garis bawahi dan catat. Gue 'melepaskan' gelar gue dibelakang nama gue bukan semata-mata karena gue kepeleset sama jurusan ini, tapi lebih sebagai cermin seberapa pantas sih gue bertarung sama S.Gz-S.Gz lain di luar sana yang lebih hebat dibandingkan gue yang apalah apalah-,-

Minder? No way! Gue engga minder. Tapi gue ngaca bahwa gue belum ada apa-apanya dibandingkan dengan S.Gz lainnya di luar sana yang lebih mumpuni dibanding gue. Itulah hal yang menjadi sumber ke-terlalu-realistis-an gue saat ini dan membuat gue terjun bebas ke dunia kerja. As you know, gue kerja sama sekali engga ada sangkut-pautnya sama background pendidikan gue sendiri.

Di luar sana masih banyak orang yang berpikiran jauuuuuh berbeda dari gue. Masih banyak rekan-rekan seperjuangan yang idealis, yang mengharapkan bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan background pendidikannya. Engga kok, gue engga meremehkan sama sekali. Postingan ini sama sekali engga ada unsur peng-underestimate-an buat rekan-rekan di luar sana. Hanya lebih ingin mencurahkan apa yang selama ini menjadi pikiran gue aja kok. Jujur, gue pun masih punya sisi idealisme terhadap pekerjaan dengan background pendidikan yang sama. Tapi entah kenapa pemikiran realistis gue terlalu mendominasi, sehingga gue merealisasikan pemikiran gue ini.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar