Halo, apa kabar semuanya?
I hope that you're in a good condition :')
Lama banget kayanya gue ga update kehidupan disini. sangat sangat sangat lama :')
Sebenernya lebih ke bingung sih mau cerita apa lagi.. cerita mah ada terus tiap hari, tapi bingung aja harus meng-up yang mana hihi. Ada satu yang sesungguhnya cukup mengganjal, mengganggu ketenangan kehidupan berbangsa dan bernegara wkwk lebay~
Bukan masalah berat, hanya masalah di masa lampau yang masih menggelitik. Entah karena masih tersimpan rasa marah, kesal, sedih, kecewa, dan lain-lain, padahal sudah berusaha melupakan. Disimpan sendiri saki, diupload mungkin bisa menimbulkan masalah, jadi bingung harus gimana. Setelah dipikir secara matang, baiknya gue ceritakan disini untuk mengurangi beban hati yang gue rasain..
Hmm..
Selama ini orang-orang melihat gue ceria tanpa beban. Ketawa sana sini, hangout sama temen disana disini. Kenyataannya engga seindah bayangan kalian :') Ketawa-ketiwi gue hanya gue jadikan tameng agar orang-orang ga mengasihani gue. Percayalah hidup dalam rasa kasihan orang lain itu engga enak sama sekali. Seolah-olah kita hidup sangat sulit, padahal hanya tinggal dijalani saja haha..
Aku ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk keluarga besar ibuku yang dahulu sungguh sangat licik dan menyakiti keluarga kecilku hingga pada hari ini aku menuliskan ini diblog aku masih tidak mengerti apa yang kalian inginkan dari keluarga kecilku yang 'tidak memiliki apa-apa'. Dari sakit yang kalian berikan, aku belajar hidup itu tidak selalu berisi tentang keindahan dan kebahagian. Terkadang malah penuh dengan cemooh dari lidah-lidah tak bertulang dan fitnah-fitnah yang cukup membuatku kaget.. Tenang aku dan keluarga sudah mengikhlaskan yang kalian ambil, tenang aku tidak akan mengungkitnya. Aku justru sangat berterima kasih, ketika kalian mengambilnya, aku jadi tahu kalau keluarga kecilku ini memiliki apa yang kalian tidak miliki. Miris rasanya, dulu kita sangat dekat, pergi bermain bersama, tertawa bersama, namun setelah ibu meninggal topeng kalian terbuka satu per satu. Dari yang dahulunya aku tidak tahu sampai sekarang aku sudah hafal gerak-gerik kalian.. Sampai detik ini aku pun berpikir, apa yang ada di benak saudara tertua ibuku ketika mengusir aku, adikku dan bapakku pada masa-masa kami masih belajar mengikhlaskan kepergian ibu kami? Aku yang masih muda ketika itu sungguh sangat marah, sangat kecewa, bahkan sampai melontarkan doa yang tidak baik kepadanya. Kami masih berduka, kami masih belum bisa menentukan kemana arah kami akan melangkah, kami masih mencerna kejadian itu, lalu kamu tega mengusir kami.. Ironis. Bahkan pada hari dimana ibu pergi, kamu sudah bersiap angkat senjata untuk berperang denganku saat itu. Hampir saja hak aku sebagai anak, kamu ambil. Iya, kamu hampir saja mengambil keputusan sepihak dimana ibuku akan dikebumikan. I said to all my family, this is our decision not yours. You are just her brother, you didn't have any responsibility to make decision. Kasar memang jika dilontarkan oleh anak perempuan berusia 19 tahun, kepada lelaki berusia 50 tahun-an. Tapi aku ingat apa yang diajarkan ibuku, jika hakmu ditindas, lawan jangan diam saja. Ya, aku lawan dia. Takut? Ya. Tetapi disitu aku mendapatkan dukungan dari banyak pihak, sahabatku, keluarga ayahku, beberapa kakak dari ibuku yang tidak 'berkubu' dengannya. Saat itu dia menurunkan senjatanya dan kalah.
Belum genap 1 tahun kepergian ibuku, dengan santainya dia mengangkat kembali senjatanya untuk berperang dengan keluargaku. Tebak apa yang kali ini dia lakukan?? Yap, dia memaki-maki aku saat bapak dan adikku tidak dirumah. Perkara sepele. Saat itu aku baru saja pulang dari field study, sampai di rumah badan sudah sangat lelah, sudah tidak banyak banyak tenaga tersisa, aku meletakkan barangku di atas sofa di ruang tamu dan bergegas ke kamar mandi untuk buang air. Di dalam kamar mandi, aku mendengar ada suara benda yang dibanting dengan keras. Aku tidak berpikir bahwa itu adalah barangku, kenyataan berbalik ketika aku keluar kamar mandi, upsss barangku berantakan terhampar menyasar ke meja komputerku.. Saat itu pula dia berteriak, bereskan barang-barangmu jangan diletakkan di sofaku, sontak aku kaget mendengarnya, aku yang baru saja pulang dan ke kamar mandi untuk urusan badanku tiba-tiba keluar lalu dihardik seperti itu. Refleks ku berujar, "bisa ga kalo engga dilempar? ini kan tidak mengganggu siapapun?" Dengan santainya dia berujar, "ini rumahku, mengikuti peraturanku." Kaget! Selama ini dia tidak pernah tinggal di rumah itu, tidak pernah mengurusi rumah itu, bahkan tidak mengeluarkan uang sepeserpun dari kantongnya untuk keperluan listrik, air, keamanan, sampah bulanan, bisa-bisanya dia mengakui itu rumahnya, yang aku tau itu rumah milik ibu bapaknya dengan atas nama adiknya, dan yang selama ini tinggal disitu adalah keluarga kecilku dan keluarga kakak keempat ibuku. Aku tidak bisa tinggal diam saat itu, kondisi fisik sudah sangat lelah, lapar, tiba-tiba dihardik seperti itu, aku berontak, aku marah, aku berteriak dan yang lebih membuat teriakan ku heboh adalah tetanggaku yang mengerubungi rumah bahkan pak RT saat itu sampai turun tangan karena orang yang bukan warganya berulah. Bahkan aku sampai menyebutkan, "anda bukan warga sini tetapi berperilaku tidak menyenangkan dan berbuat onar." Hahaha sungguh terlalu berani untuk aku yang berusia 19 tahun. Akhirnya masalah ini diselesaikan karena orangtuaku lebih cepat sampai di rumah diluar dugaanku dan pak RT yang sigap melerai perkelahian anak kecil dengan lelaki tua yang merasa berkuasa atas rumah tersebut.
Tak lama setelah itu, bapakku mendapatkan peringatan dari kakak tertua ibuku, bahwa kami harus angkat kaki meninggalkan rumah yang sudah kami tinggali sejak aku lahir. Rumah yang memiliki banyak kenangan selama 19 tahun. Sempat aku berpikir ini salahku, salahku karena terlalu emosi menghadapi orang seperti itu. Tetangga-tetanggaku menangis ketika kami bilang kami akan pindah hari itu. Mereka memeluk kami dengan erat, layaknya saudara kandung yang akan pergi merantau jauh sekali. Mereka menyemangati kami dengan kalimat-kalimat yang tulus, mendoakan kami agar kami terjauh dari orang-orang yang dzolim seperti kakak tertua ibuku. Doa-doa tulus dari mereka ini lah yang membuat kami tetap kuat hingga mampu tersenyum di depan mereka, bahkan kami bilang, tali silaturahmi kita tidak akan terputus walaupun kami pindah, dan itu terbukti hingga saat ini pada saat lebaran kami tetap mengunjungi rumah mereka untuk saling bersalaman menanyakan kabar. Miris sekali, melihat tetangga yang lebih menyayangi kami, ketimbang saudara kami sendiri. Inilah awalnya mengapa kami menjadi kaum nomaden hehe..
Setelah kami pindah, aku memberanikan diri untuk bertanya pada bapakku apa penyebab kami harus angkat kaki dari rumah itu. Beliau tidak menjawab dengan gamblang, hanya jawaban singkat yang cukup membuat aku bangkit dari kalimat-kalimat penyesalanku. Aku mencoba untuk mengambil apa hikmah dari kejadian ini. Kami bercerita sangat panjang hari itu. Bahkan hal-hal yang tidak aku ketahui jaman dahulu, kini akupun tahu. Mulai dari mengapa ia bisa sampai ke jakarta dan mengambil alih rumah tersebut, bagaimana dia memperlakukan bapakku, bagaimana dia memperlakukan ibuku, bagaimana dia memperlakukan adikku.. Aku tidak terlalu kaget, bagaimana jahatnya dia memperlakukan keluarga kecilku. Karena memang ku tidak terlalu suka dengan gayanya yang merasa paling hebat dan paling jagoan di keluarga besar, tetapi rasa ketidaksukaanku aku simpan rapat-rapat. Semasa ibu masih adapun dia berlagak seperti tuan besar di rumah itu. Mencuci baju sampai pakaian dalamnya dicucikan oleh ibuku, masak dari sarapan hingga bertemu makan malam menumpang di keluargaku, meminjam barang bapakku dia gunakan semena-mena hingga barang itu rusak, setiap jam 12 siang dia pulang ke rumah hanya untuk makan siang meminta lauk dari keluargaku, tidak ikut menyumbang bayar listrik di rumah padahal dia sering sekali menonton tv hingga dia ketiduran dan tv menyala hingga pagi, bahkan sampai dia sakit karena 'dikerjai' oleh temannya yang membiayai pengobatan adalah bapakku.
Semakin hari aku semakin banyak belajar, bahwa dengan adanya orang-orang ini aku bisa mengerti apa artinya saling menguatkan, saling mengasihi satu sama lainnya, tapi ini hanya berlaku untuk keluarga kecilku saja hahahahahaha. Ikhlas itu memang berat, tapi akan lebih berat kalo kita ga berusaha untuk mencoba. Terasa banget 1 minggu setelah pindah terasa ga ikhlas, setelah lama kelamaan mulai mencoba menerima segalanya, beban terasa lebih ringan, sakit mulai pudar, dunia seakan-akan berangsur membaik. Kata orang-orang coping-ku terhadap rasa sakit itu cukup baik, aku bisa bangkit dan ga berlarut-larut merutuki nasib. But, I'm still healing the wound. Rasa sakitnya masih ada, tapi aku sudah mengalahkan ego sendiri.
Surat Untuk Pakde Hari Supriyatna
Halo, Pakde.
Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah SWT.
Aku mau bilang sesuatu. Aku, Bapak dan Adik masih bahagia seperti sebelum kejadian pengusiran itu. Kita masih bisa tertawa, makan enak, jalan-jalan kemanapun yang aku dan keluargaku mau. Perlakuan yang Pakde lakukan, hanya kerikil kecil kok buat hidupku. Bapak masih bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan benar. Bapak juga mendidik kami dengan caranya, bukan cara yang Pakde mau. Kami bisa bergerak bebas tanpa ada kalimat yang menghardik kami. Aku dan adikku bertumbuh dan berkembang sesuai dengan passion dan hobby kita masing-masing dengan rasa senang dan tanpa rasa tertekan. Aku dan adikku merasa sangat bangga bisa mengalahkan ego kita untuk tidak membenci Pakde, walaupun luka yang kemarin Pakde kasih ke kita ga bisa sembuh dan membekas selamanya. Aku juga berterima kasih sekali karena Pakde sudah melontarkan kalimat fitnah untuk keluargaku, dari situ kami semua bisa mengetahui mana saudara yang dapat membedakan hoax dan fakta. Oiya aku sekalian mau mengklarifikasi kalau aku, Bapak, dan Adikku tidak pernah sama sekali menelfon Eyang Tati dengan memaki-maki dan membanting telfon, karena semenjak keluargaku dikucilkan di keluarga besar, kami menarik diri agar kami tidak semakin sakit hati mendengarkan fitnah keji yang beredar disana. Perlu diketahui oleh Pakde, selama aku hidup di dunia aku selalu diajarkan sopan dan santun serta bertutur kata yang halus jika menelfon seseorang yang lebih tua dariku. Aku aja ga pernah menutup telfon duluan kalau Bapakku nelfon aku, gimana kalo aku telfonan dengan Eyang Tati, ga mungkin aku akan menutup duluan telfon dari beliau. Hehehehehe.
Oiya, aku mau tanya selama kita sudah tidak tinggal di rumah itu, siapa yang bayar listrik rumah? Siapa yang menyogok got kalau airnya mampet? Aku harap disana ada orang yang bisa disuruh ya buat mengerjakan itu semua. Tenang Pakde, aku dan keluargaku sudah tidak akan mengingat jika ibuku memiliki hak di rumah itu juga. Kita sudah punya sendiri kok sekarang, jadi silahkan dipakai ya rumahnya, dijaga dan dirawat yaa. Hehehehehe.
Oh ada yang ketinggalan!
Aku mau meminta maaf kalau aku, Bapakku dan Adikku masih belum bisa memaafkan semua yang Pakde pernah perbuat untuk kami. Kami sengaja menyimpannya sedikit sebagai pengingat bahwa kami pernah menjadi orang yang Pakde cari ketika Pakde mengalami kesusahan, mengurusi Pakde, padahal saat itu kondisi kami ekonominya sedang tidak stabil. Tidak apa-apa, tidak usah takut, kami tidak akan membalasnya. Kami tahu ada yang maha mengetahui segalanya. Kami menyerahkan agar yang maha mengetahui mencatat dan mengembalikan apa yang telah Pakde berikan kepada kami. Satu hal yang perlu Pakde ingat, aku tidak akan pernah lupa bagaimana Pakde menyakiti Bapak dan Adikku, bagaimana Pakde membuat orang-orang yang sangat aku cintai menangis karena perlakuan Pakde. Semua hal itu aku simpan dengan baik di hati dan otakku.
Aku berharap Pakde akan sehat selalu, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Tidak mengalami kekurangan sedikit pun. Selalu menjadi panutan untuk adik-adik Pakde yang lain. Aamiin Yaa Rabb.
Salam Hangat,
Ria.
0 komentar:
Posting Komentar